Photobucket

Hamid Alhamid

Sabtu, 27 April 2013

KONTRADIKSI AJARAN SYIAH, EDISI-5

Luthfi Bashori 12. Jika tathbir (melukai kepala hingga berdarah pada tanggal 10 Muharram), ratapan dan memukul dada itu berpahala seperti yang mereka klaim, mengapa para tokoh agama tidak melakukan tathbir tersebut?. 13. Jika Syi ah menyangka bahwa mereka yang hadir di Ghadir Khum itu ribuan sahabat yang semuanya telah mendengar wasiat tentang tampuk kekhalifahan untuk Ali bin Abi Thalib begitu Rasulullah wafat, mengapa tidak seorangpun dari ribuan sahabat itu datang dan marah kepada Ali bin Abi Thalib, bahkan tidak pula Ammar bin Yasir, Miqdad bin al-Aswad atau Salman al-Farisi seraya mngatakan: Wahai Abu Bakar, mengapa kau merampas kekhalifahan dari Ali, sedangkan engkau mengetahui apa yang disampaikan oleh Rasulullah di Ghadir Khum?! . 14. Mengapa Ali tidak berbicara, ketika Nabi SAW menjelang wafatnya meminta agar dituliskan untuk mereka suatu wasiat yang mereka tidak akan tersesat setelah itu selamanya, padahal dia seorang pemberani yang tak takut kecuali kepada Allah?! Dia juga tahu, orang yang diam dari kebenaran adalah setan bisu!! 15. Bukankah Syi ah mengatakan bahwa sebagian besar riwayat dalam kita al-Kafi adalah dhaif ?! Dan kami tidak mempunyai yang shahih kecuali Al-Qur an. Lantas bagaimana mungkin setelah itu mereka mengklaim-dengan kedustaan-bahwa tafsir Ilahi untuk al-Qur an itu terdapat dalam kitab yang sebagian besar riwayatnya adalah dhaif berdasarkan pengakuan mereka?! 16. Ubudiyyah (peribadatan) itu hanya milik Allah semata. Allah berfirman: Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah (Az-Zumar: 66) Lantas mengapa Syi ah memakai nama Abdul Husain, Abdu Ali, Abdu Zahra , dan Abdul Imam? Mengapa pula para Imam tidak menamakan anak-anak mereka dengan Abdu Ali dan Abduz Zahra ? Apakah dibenarkan memaknai Abdul Husain dengan pelayan al-Husain setelah syahidnya al-Husain? Apakah bisa diterima akal menghidangkan makanan dan minuman untuknya serta menuangkan air wudhu untuknya dikuburnya, sehingga ia menjadi pelayan baginya? 17. jika Ali ra mengetahui bahwa ia khalifah dari Allah yang telah di-nash-kan, lalu mengapa ia membaiat Abu Bakar, Umar dan Utsman ra? Jika kalian mengatakan bahwa ia lemah, maka orang yang lemah itu tidak layak menjadi imam; karena keimaman itu hanya layak untuk orang yang mampu memikul tampuk kepemimpinan. Jika kalian mengatakan bahwa ia mampu tetapi tidak melakukannya, maka ini adalah pengkhianatan. Sedangkan pengkhianatan itu tidak patut sebagai imam! Dan tidak bisa dipercaya untuk pemimpin rakyat. Tidak mungkin Ali ra seperti itu. Lantas apa jawaban kalian ini, jika kalian memiliki jawaban yang sangat benar sekali? 18. Ketika Ali ra menjadi khalifah, kami tidak mendapatinya menyelisihi Khulafaur Rasyidin sebelumnya. Ia tidak mengeluarkan kepada manusia Al-Qur an selain Al-Qur an yang ada pada mereka, dan tidak mengingkari seorang pun dari mereka sedikit pun. Bahkan diriwayatkan secara mutawatir perkataannya di atas mimbar, Sebaik-baik umat ini setelah Nabi mereka adalah Abu Bakar dan Umar. Ia tidak mensyariatkan kawin mut ah, tidak mewajibkan haji tamattu kepada manusia, tidak memaklumatkan hayya ala khairil- amal dalam adzan, dan tidak pula menghapus ash-shalatu khairun minan-naum. Seandainya Abu Bakar dan Umar ra adalah kafir, yang telah merampas khilafah darinya -sebagaimana yang mereka sangka-lalu mengapa ia tidak menerangkan hal itu, padahal tampuk kekuasaan berada ditangannya?! Justru kita mendapati sebaliknya, yaitu pujian dan sanjungan terhadap keduanya. Kalian leluasa atau kalian harus mengatakan, ia telah mengkhianati umat dan tidak menjelaskan hal itu kepada mereka. Tidak mungkin Ali ra demikian. Komentar Pejuang : Jika tokoh-tokoh Syi ah masa kini mengatakan bahwa kitab Alkafi itu tidak semuanya shahih, itu karena sudah banyak dari kalangan para Ulama yang berhasil membongkar isi Alkafi, yang selama ratusan tahun disembunyikan oleh kalangan Syiah, dan hanya boleh dibaca oleh kalangan tertentu. Setelah para ulama mengadakan studi komparasi antara kitab-kitab rujukan umat Islam, seperti Shahih Bukhari, Muslim dan kutubus sunan yang lainnya dengan kitab-kitab rujukan utama kalangan Syi ah seperti kitab Alkafi, Attahdzib, Al-istibshar, Man laa yahdhuruhul faqih, dan sebagainya, maka para ulama menemukan banyak sekali kalimat kekufuran dan kemurtadan yang ditemui dalam kitab-kitab rujukan kalangan Syiah tersebut, sebut saja salah satu judul sebuah kitab Syi ah : Fashlul khithab fi itsbaati tahriifi kitaabi rabbil arbaab (Sebuah kepastian, bahwa Alquran yang ada saat ini telah banyak mengalami perubahan). Artinya, secara ekplisit kalangan Syi ah tidak menyakini kemurnian dan keasliyan Alquran yang menjadi kitab suci dan pedoman hidup kaum muslimin di seluruh dunia. Demikian juga yang ditemukan dalam kitab Alkafi, banyak sekali kalimat-kalimat yang sudah mengandung perkataan murtad dan keluar dari agama Islam. Maka tatkala mereka mulai mempropagandakan agama Syi ah kepada umat Islam, lantas mendapat counteran dari umat Islam atas ketidak benaran kitab Alkafi, maka secara tiba-tiba saja mereka mengatakan, tidak semua yang ada di dalam kitab Alkafi itu shahih, padahal para tokoh Syi ah di masa-masa sebelumnya dengan terang-terangan mengatakan tentang keshahihan Alkafi secara mutawatir. Coba perhatikan tulisan pada buku DIALOG SUNNAH-SYI AH cetakan pertama Penerbit Mizan sebagai berikut : (( Beberapa di antara tokoh-tokoh terkenal di kalangan kami, telah membuat ringkasan-ringkasan dari kitab-kitab itu, dengan tujuan memberi kemudahan bagi para pelajar dan keringanan bagi yang mencarinya. Yang terbaik di antaranya ialah : empat buah kitab yang menjadi buku-buku pegangan kaum Imamiyyah dalam ushul dan furu , semenjak generasi-generasi pertama SAMPAI DENGAN MASA KITA SEKARANG INI, yaitu AL-KAFI, At-tahdzib, Al-istibshar, dan Manla yahdzuruhul Faqih. Kitab-kitab ini telah sampai kepada kita dengan cara MUTAWATIR, sedang isi yang dikandungnya adalah SHAHIH dan BISA DIPERTANGGUNGJAWABKAN, TANPA KERAGUAN SEDIKITPUN. Di antara keempatnya, maka KITAB AL-KAFI adalah yang paling terdahulu, paling besar, PALING BAIK dan paling rapi. Di dalamnya terdapat 16.199 hadits )). Sayangnya, atas kebiasaan buruk kalangan Syi ah, yaitu bolehnya berbohong dan berkhianat, termasuk tidak menjalankan amanatul naqli (kejujuran dalam menyadur), maka cetakan Mizan untuk yang berikutnya, pernyataan tertulis di atas sudah dihapus dari buku DIALOG SUNNAH-SYI AH. Namun, Alhamdulillah di Markaz pejuangislam.com masih tersedia stok lama buku DIALOG SUNNAH-SYI AH cetakan pertama.

0 komentar: