Photobucket

Hamid Alhamid

Sabtu, 27 April 2013

SYIAH ADALAH ALIRAN SESAT MENURUT KRITERIA MUI PUSAT

Luthfi Bashori Majlis Ulama Indonesia MUI Pusat pada tanggal 6 Nopember 2007, jam 21.23 WIB telah menetapkan sepuluh kriteria aliran sesat, sebagai berikut: 1. (*MENGINGKARI SALAH SATU RUKUN IMAN DAN RUKUN ISLAM*). 2. (*MEYAKINI ATAU MENGIKUTI AQIDAH YANG TIDAK SESUAI DENGAN DALIL SYAR`I DARI AL QUR`AN DAN AS SUNNAH*). 3. (*MEYAKINI TURUNNYA WAHYU SESUDAH AL QUR`AN*). 4. (*MENGINGKARI AUTENTISITAS DAN KEBENARAN AL QUR`AN*). 5. (*MENAFSIRKAN AL QUR`AN YANG TIDAK BERDASAR KAIDAH-KAIDAH TAFSIR*). 6. (*MENGINGKARI KEDUDUKAN HADITS NABI SEBAGAI SUMBER AJARAN ISLAM*). 7. (*MENGHINA, MELECEHKAN DAN / ATAU MERENDAHKAN NABI DAN RASUL*). 8. (*MENGINGKARI NABI MUHAMMAD SAW. SEBAGAI NABI DAN RASUL TERAKHIR*). 9. (*MENGUBAH, MENAMBAH DAN MENGURANGI POKOK-POKOK IBADAH YANG TELAH DITETAPKAN SYARI`AT*). 10. (*MENGKAFIRKAN SESAMA MUSLIM TANPA DALIL SYAR`I*). Beberapa kawan yang tergabung dalam musyawarah Hai’ah Ash Shofwah Al Malikiyah setelah mengkaji kitab-kitab rujukan aliran Syi’ah yang di antaranya: Al Kafi lil Kulaini, Man La Yadlurruhul Faqih lil Qummi, At Tahdzib lit Thusi, Al Istibshar lit Thusi, Al Wafi lil Kasyi, Wasa’ilus Syi’ah lil Kamili, Biharul Anwar lil Majlisi, Al ‘Awalim lil Bahrani, Mustadrakul Wasa’il lin Nuri, Fashlul Khitab Lini’matillah Al Jaza’iri dan Al Ihtijaj lit Thabrisi, serta temuan-temuan di lapangan - menilai bahwasanya aliran Syi’ah, sungguh telah memenuhi sepuluh kriteria ini, oleh karena itu kawan-kawan dari Hai’ah Ash Shofwah Al Malikiyah menyimpulkan dengan tegas bahwa aliran Syiah adalah aliran sesat dan menyesatkan dan tergolong menistai dan menodai Agama Islam.  Dari kriteria nomor 1, Bahwa aliran Syi’ah mengingkari Rukun Islam yang ditetapkan dengan dalil hadits-hadits Shahih, yang di antaranya: روى البخاري ومسلم والترمذي والنسائي وأحمد في المسند عَنِ ابْنِ عُمَرَ - رضى الله عنهما – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ : بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ, شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالْحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ (Sabda Nabi SAW: Rukun Islam itu dibangun atas lima perkara, persaksian tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah, menunaikan shalat, mengeluarkan zakat, melaksanakan haji, dan berpuasa Ramadhan). Di dalam kitab Syi’ah Al Ushul Minal Kafi lil Kulaini (2/18) bab Da’aimul Islam Nomor Hadits (NH) 1: روى الكليني بسنده عن أبي جعفر قال: بني الإسلام على خمس: على الصّلاة والزّكاة والصّوم والحجّ والولاية, ولم يناد بشيء كما نودي بالولاية (Abu Jakfar berkata : Rukun Islam dibangun atas lima perkara, menunaikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa Ramadhan, melaksanakan haji dan membangun kekuasaan, dan tidak ada yang paling ditekanan selain urusan kekuasaan)  Dari kriteria nomor 2, Bahwa Aliran Syi’ah telah mengikuti akidah yang tidak benar, dengan beri’tikad bahwa bagi manusia masih dapat membantah Allah kecuali setelah mengetahui Imamnya, dan walaupun setelah diutusnya Nabi dan Rasul, seperti dalam Al Ushul Minal Kafi lil Kulaini (1/177) bab Annal Hujjata La Taqumu Lillah ‘Ala Kholqihi Illa bil Imam NH 1: عن داود الرقّي عن العبد الصالح عليه السلام قال: (إن الحجة لا تقوم لله على خلقه إلا بإمام حتى يُعرف (Sesungguhnya umat manusia itu sedikitpun tidak dapat membantah penghakiman Allah kecuali dengan (pertolongan) imam (Syiah) yang diketahui / dimani) Sementara dalam akidah Islam ditetapkan sebagaimana dalam QS. An Nisa’ 165: رُسُلاً مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلاَّ يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا (Mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.  Dari kriteria nomor 3, bahwa aliran Syi’ah telah meyakini turunnya wahyu kepada Sitti Fatimah Az Zahra’ setelah wafatnya Baginda Nabi, seperti disebutkan dalam Kitab Syi’ah Al Ushul Minal Kafi lil Kulaini (1/240) bab Dzikrus Shahifah NH 2: إن الله تعالى لما قبض نبيه دخل على فاطمة عليها السلام من وفاته من الحزن ما لا يعلمه إلا الله عز وجل، فأرسل الله إليها ملكًا يُسَلِّيْ غَمَّهَا ويُحَدِّثَهَا, فشكت ذلك إلى أمير المؤمنين رضي الله عنه فقال: إذا أحسست بذلك، وسمعت الصوت قولي لي، فأعلمته بذلك، فجعل أمير المؤمنين رضي الله عنه يكتب كل ما سمع حتى أثبت من ذلك مصحفًا ... أما إنه ليس فيه شيء من الحلال والحرام ولكن فيه علم ما يكون. (Sesungguhnya Allah tatkala mencabut nyawa Nabi SAW, (firman-Nya) turun menghibur Sitti Fatimah AS karena kecintaan-Nya demi menghilangkan kesediahannya yang tidak seorangpun tahu kecduali hanya Dia. Maka Allah mengutus seorang malaikat untuk menghibur kesedihannya, dan mengajaknya bercakap. Lantas beliau memberitahu Amirul mukminin (Sy. Ali, suaminya), dan dijawab: Jika engkau merasakan hal itu dan mendengarkan suaranya, maka panggillah aku. Lantas beliau (Sitti Fatimah) memberitahukan hal itu, maka Amirul mukminin (Sy. Ali) langsung menulis semua apa yang didengar (dari Sitti Fatimah) dan menetapkannya sebagai kitab suci (mushaf Fatimah), ketahuilah, bahwa di dalam (mushaf fatimah) ini tidak membahas hukum halal – haram, melainkan urusan alam (akherat) yang akan datang).  Dari kriteria nomor 4, Bahwa Aliran Syi’ah telah mengingkari autentisitas dan kebenaran Al Qur`an, seperti dalam Kitab Syi’ah Al Usul Minal Kafi lil Kulaini (2/634) bab An Nawadir NH 28: إن القرآن الذي جاء به جبريل إلى محمد سبعة عشر ألف آية (Sesungguhnya Alquran yang dibawa malaikat Jibril AS kepada Nabi Muhammad SAW itu 17.000 ayat) Alushul Minal Kafi (1/228) bab Annahu Lam Yajma’il Qur’an Kullahu Illal A’immah NH 1: قال شيخهم محسن الكاشاني في تفسيره الصافي 1/49: (أن القرآن الذي بين أظهرنا ليس بتمامه كما أنزل على محمد صلى الله عليه وآله وسلم، بل منه ما هو خلاف ما أنزل الله، ومنه ما هو مغير محرف، وأنه قد حذف عنه أشياء كثيرة منها اسم علي - عليه السلام - في كثير من المواضع، ومنها غير ذلك، وأنه ليس أيضاً على الترتيب المرضي عند الله وعند رسوله صلى الله عليه وآله وسلم (Sesungguhnya Alquran yang ada di tangan kita sekarang ini, bukanlah yang lengkap/sempurna sebagaimana yang diturunkan kepada Nabi SAW, tetapi (ayat-ayat) di dalamnya sudah ada yang bertentangan dengan apa yang diturunkan oleh Allah, yaitu telah banyak huruf yang berubah, dan perubahan yang paling banyak dilakukan adalah penghapusan nama Sy. Ali AS di beberapa tempat (surat), juga ada perubahan lainnya selain hal itu, dan Alquran yang ada ini tidaklah mengikuti urutan yang diridlai (ditetapkan) oleh Allah dan Rasulullah SAW).  Dari kriteria nomor 5, Bahwa Aliran Syi’ah telah menafsiri Al Qur’an dengan tidak berdasar kaidah-kaidah tafsir, seperti dalam Kitab Syi’ah Al Ushul Minal Kafi lil Kulaini halaman 207, bab Annal Ayatallati Dzakarahallahu Azza Wajalla fi Kitabihi Humul A’immatu Alaihis Salam NH 1: عن داود الرقي قال: سألت أبا عبد الله عليه السلام عن قول الله تبارك وتعالى (وما تغني الأيات والنذر عن قوم لا يؤمنون) قال: الأيات هم الأئمة، والنذر هم الأنبياء عليه السلام. (Dawud Arraqi, berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdillah AS tentang firman Allah yang artinya (Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman/QS. Yunus 101). Beliau menafsiri, maksud al-ayaat/tanda kekuasaan Allah itu adalah para Imam (Syiah), dan annudzur/peringatan itu adalah para Rasul AS).  Dari kriteria nomor 6, Bahwa Aliran Syi’ah tidak membenarkan hadits-hadits Shahih yang terdapat dalam Kutubus Sittah (Bukhari, Muslim, Nasa’i, Abu Daud, Ibn Majah, At Tirmidzi) yang menjadi rujukan kaum muslimin, seperti dalam Kitab Syi’ah An Najafi/Ta’liqatihi ‘Ala Ihqaqil Haqq (2/28-289) وقال آيتهم العظمى شهاب الدين النجفي: إن النبي صلى الله عليه وسلم ضاقت عليه الفرصة ولم يسعه المجال لتعليم جميع أحكام الدين ... وقد قدّم الاشتغال بالحروب على التمحص (كذا) ببيان تفاصل الأحكام ... لاسيما مع عدم كفاية استعداد الناس في زمنه لتلقّي جميع ما يحتاج إليه طول قرون (Syihabuddin Annajfi berkata: Bahwa Nabi AS kehabisan waktu hingga tidak sempat mengajarkan (hadits-hadits) seluruh ajaran agama Islam, karena disibukkan oleh urusan peperangan, terlebih masalah ilmu hukum/syariat yang secara rinci, belum lagi tidak adanya kemampuan orang (ulama ahli hadits) pada zamannya untuk meriwayatkan seluruh (hadits Nabi SAW), karena panjangnya jarak masa (antara para ulama ahli Hadits dengan Nabi SAW).  Dari kriteria nomor 7, Bahwa Aliran Syi’ah menghina, melecehkan dan/atau merendahkan Nabi dan Rasul dengan mengakui bahwa Imam mereka mendapatkan martabat dan ilmu yang tidak pernah didapatkan oleh orang lain termasuk Nabi dan Rasul, sebagaimana disebutkan dalam Kitab Syi’ah Al Ushul Minal Kafi lil Kulaini (1/196-197): قال أبو عبد الله : (أنا قسيم الله بين الجنة والنار, وأنا الفاروق الأكبر, وأنا صاحب العصا والميسم, ولقد أقرت لي جميع الملائكة والروح والرسل بمثل ما أقروا به لمحمد ولقد حمّلت علي مثل حمولته وهي حمولة الرب, وإن رسول الله يدعى فيكسى, وأُدعى فأُكسى, ويستنطق فأستنطق فأنطق على حدّ منطقه, ولقد أعطيت خصالا ما سبقني إليها أحد قبلي. علمت الْمنايا والبلايا, والأنساب وفصل الخطاب, فلم يفتني ما سبقني, ولم يعزب عَنِّيْ مَا غاب عنّي Abu Abdillah AS berkata : Aku adalah pemegang saham dari Allah untuk membagi (manusia menjadi) penduduk sorga dan neraka. Akulah pembagi yang dominan. Aku adalah pemilik tongkat. Sungguh telah bersepakat seluruh malaikat untuk (kedudukan)-ku sebagaimana mereka bersepakat bagi (kedudukan) Nabi Muhammad SAW, dan sungguh aku dibebani seperti yangt dibebankan kepadanya (Nabi SAW) yaitu tugas dari Tuhan. Sungguh Rasulullah SAW itu dipanggil dan diberi pakaian, aku juga dipanggil dan diberi pakaian, beliau diberi kemampuan bicara (dengan wahyu), aku juga diberi kemampuan sama seperti beliau bicara. Bahkan aku diberi kemampuan yang belum pernah diberikan kepada seorang manusiapun sebelumku, yaitu aku diberitahu urusan kematian, datangnya bencana, silsilah nasab, dan ketentuan Qiamat, dan tidak ada yang terlewatkan dari (pengetahuan)-ku (peristiwa) apa saja yang pernah datang mendahuluiku, dan tidak lepas dari (pengamatan)-ku segala sesuatu yang ghaib (tidak berada di depan)-ku)  Dari kriteria nomor 8, Bahwa Aliran Syi’ah mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul terakhir, dengan membenarkan datangnya Malaikat Jibril membawa Wahyu kepada Sitti Fatimah Az Zahra’, sebagaimana disebutkan pada kriteria nomor 3.  Dari kriteria nomor 9, Bahwa Aliran Syi’ah mengubah, menambah dan mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syari`at dengan mengubah shalat 5 waktu menjadi 3 waktu, dan shalat jum’at berhukum sunnah, sebagaimana diceritakan pengakuan beberapa mantan Syi’ah pengikut Tajul yang di antaranya: Roisul Hukama’ saudara Tajul dan Moh. Nur ‘Asymawi santri terdekat Tajul: • Menjadikan waktu shalat maktubah yang 5 waktu menjadi 3 waktu dengan berdalil Ayat أقم الصلاة لدلوك الشمـس waktu untuk dzuhur dan ashar, إلى غسق الليل waktu untuk maghrib dan isya’,وقرآن الفجر waktu untuk shubuh. (Penuturan dari: Moh. Nur Asymawi). • Menganggap Shalat Jum’at berhukum sunnah sebelum keluarnya Imam Al Muntadhar. (Penuturan dari: Moh. Nur Asymawi). Disebutkan dalam Kitab Ushulu Madzhabis Syi’ah 2/386: لقد أوقف الشيعة بسبب الغيبة للمنتظر إقامة صلاة الجمعة، كما منعوا إقامة إمام للمسلمين وقالوا: الجمعة والحكومة لإمام المسلمين والإمام هو هذا المنتظر (Kaum Syiah telah memutuskan penghentian (tidak mewajibkan shalat) Jumat, karena ghaib (menghilang dan bersembunyinya) Imam Almuntadhar (Imam Syiah yang ke - 12), seperti juga larangan pengangkatan pemimpin bagi umat Islam (selain dari Imam/wakil Imam Syiah). Mereka mengatakan : Shalat Jumat dan pemerintahan itu (itu hanya sah jika dipimpin) oleh imamnya umat Islam, dan imam yang dimaksud itu adalah Imam Almuntadhar ini).  Dari kriteria nomor 10, Aliran Syi’ah meyakini bahwa para shahabat telah murtad setelah Nabi wafat kecuali 3 orang, sebagaimana disebutkan dalam kitab Syi’ah Ar Raudlah Minal Kafi lil Kulaini (8/245): عن أبي جعفر قال: كان الناس أهل ردّة بعد النبي إلاَّ ثلاثة. فقلت: ومن الثلاثة ؟. المقداد بن الأسود وأبو ذر الغفاري, وسلمان الفارسى رحمة الله وبركاته عليه (Dari Abu Jakfar AS berkata: Konon semua orang (para shahabat) itu telah murtad setelah Nabi SAW wafat, kecuali tiga orang. Aku bertanya: Siapa tiga orang itu? (Beliau menjawab): Almiqdad bin Al-aswad, Abu Dzar Alghifari, dan Salman Alfarisi semoga Allah merahmati dan memberkati mereka).

0 komentar: