Photobucket

Hamid Alhamid

Sabtu, 27 April 2013

IMAM MUSLIM BIN HAJJAJ DAN KITAB SHAHIHNYA

Luthfi Bashori Beliau dilahirkan di Naisabur tahun 206 H, dengan selisih 12 tahun lebih muda dari usia Imam Bukhari. Dalam menjalani hidup, Imam Muslim sangat mencintai ilmu agama dan senantiasa memperdalam Ilmu Hadits sebagai ilmu yang menjadi spesialisali bidang yang beliau geluti. Karena kegemaran ini pula beliau telah melanglang buana ke pelbagai negeri untuk mengambil riwayat-riwayat hadits dari banyak masyayekh ahli Hadits. Di wilayah Khurasan, Imam Muslim belajar Hadits kepada Syeikh Yahya dan Syeikh Ishaq bin Rahuyah. Saat masuk di daerah Ray, beliau belajar hadits dari Syeikh Muhammad bin Mihran. Imam Muslim juga meriwayatkan Hadits dari Imam Ahmad bin Hanbal dan Syeikh Abdullah bin Maslamah tatkala melanglang buana ke negeri Iraq. Di Mesir, Imam Muslim tak mau ketinggalan untuk memperdalam Ilmu Haditsnya dari Syeikh Amr bin Sawad dan Syeikh Harmalah bin Yahya. Tatkala Imam Muslim berada di daerah Hijaz (sekitar Makkah dan Madinah), beliau belajar Hadits dari Syeikh Said bin Mansur dan Syeikh Abi Mush`ib. Imam Muslim benar-benar telah menghabiskan waktu hidupnya hingga tutup usia pada umur 55 tahun, untuk belajar Ilmu agama khususnya Ilmu Hadits Nabawi, dengan cara melanglang buana sebagaimana tersebut di atas, sekaligus mengajarkan ilmu yang telah beliau dapatkan kepada umat Islam. Karena itu, sederet nama ulama pun telah lahir dari tempat pendidikan yang dikelola oleh Imam Muslim. Beberapa nama ulama yang pernah mengenyam ilmu dari Imam Muslim di antaranya : Imam Tirmidzi, Syeikh Muhammad bin Makhlad, Syeikh Ibrahim bin Sufyan, Syeikh bin Ishaq bin Khuzaimah (terkenal dengan julukan Syeikh Ibnu Khuzaimah), Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab Albara, Syeikh Ali bin Husain, Syeikh Makki bin Abdan dan sejumlah nama ulama salaf yang keliber di bidangnya masing-masing. Para ulama yang pernah belajar kepada Imam Muslim, semuanya merasakan betapa tinggi dan agungnya kematangan ilmu, kewibawaan serta akhlaq yang dimiliki oleh Imam Muslim. Beliau mengarang kitab Shahih Muslim yang menjadi rujukan umat Islam seluruh dunia setelah kitab Shahih Bukhari. Di samping kitab Shahih Muslim, beliau juga memiliki karangan kitab yang lainnya. Kitab Shahih Muslim yang namanya telah menghiasi sejarah dunia Islam hingga kapanpun selagi masih ada umat Islam yang belajar ilmu agama. Kitab Shahih Muslim ini beliau kerjakan selama 15 tahun dengan jumlah kandungan sebanyak 12.000 Hadits khusus Shahih yang beliau pilih dari 300.000 Hadits yang telah beliau hafalkan. Imam Muslim mengikuti langkah Imam Bukhari dalam menyaratkan sebuah hadits yang beliau kategorikan shahih. Bahkan metode penulisan Imam Muslim lebih rapi dan sistematis dalam menyusun kitab Shahih dibanding Imam Bukhari. Sebagai contoh Imam Bukhari masih memasukkan atsar (ucapan) Shahabat dalam kitabnya, sedang Imam Muslim lebih mengkhususkan sabda Nabi SAW. Imam Muslim juga memberi bab-bab pada kitabnya menurut tema pembahasan dengan rapi, sedang Imam Bukhari lebih banyak menukil cuplikan sabda Nabi lantas dijadikan bab dalam kitab Shahihnya. Hanya saja dalam masalah menerapan syarat terhadap pemilihan hadits Shahih, maka Imam Bukhari lebih ketat ketimbang Imam Muslim. Sebagaimana Imam Bukhari yang sering mengulang sebuah hadits untuk beberapa bab yang dianggap sesuai, Imam Muslim juga melakukan hal yang sama, karena tuntutan tema pada bebarapa bab, maka Imam Muslim mengharuskan mengulang-ulang beberapa hadits dalam kitab Shahihnya. Menurut Imam Nawawi, jika dihitung jumlah hadits dalam kitab Shahih Muslim tanpa mengulang-ulang, maka jumlah totalnya adalah sebanyak 4000 hadits. Metode penyusunan Imam Muslim memang dikenal lebih rapi dan lebih mudah dipahami dari pada cara penyusunan Imam Bukhari, karena Imam Muslim adalah murid dari Imam Bukhari. Lantas setelah datang masa menyampaikan ilmu Hadits secara tertulis, Imam Muslim pun mempelajari metode gurunya, dan beliau berusaha untuk lebih menyempurnakan sistem dan memudahkan bagi pembacanya setelah mengetahui bagian mana saja yang dianggap sulit saat mempelajari kitab Shahih Bukhari. Namun, untuk masalah keagungan dan ketinggian derajat keilmuan serta ketatnya derajat Hadits Shahih yang menjadi pilihan beliau berdua, maka para ulama tetap mengunggulkan pilihan Hadits Shahih dari Imam Bukhari daripada pilihan Imam Muslim. Artinya kitab Shahih Bukhari lebih utama daripada kitab Shahih Muslim.

0 komentar: