Photobucket

Hamid Alhamid

Sabtu, 27 April 2013

Cuplikan dari Buku: KECUALI ALI Karya Tokoh Syiah, Abbas Rais Kermani - (2)

Luthfi Bashori Menengok lebih jauh buku Kecuali Ali, umat Islam akan semakin menggeleng-gelengkan kepala mendapati banyak kemustahilan muatannya, akibat sikap ghuluw (pengkultusan yang sangat berlebihan) oleh kaum Syiah terhadap Sy. Ali bin Abi Thalib dan sebelas anak cucu beliau yang diklaim oleh penganut Syiah Imamiyah sebagai para imam mereka. Mari mencermati cuplikan dari buku Kecuali Ali, yang banyak menggunakan kalimat menohok bagi aqidah umat Islam, sebut saja pada judul bab, Imam Ali as dan Alam Arwah, yang isinya sebagai berikut : Imam Ali as dan seluruh para manusia suci as, menjadi guru bagi para malaikat di alam arwah. (hal 33). Yang dimaksud dengan para manusia suci dalam kalimat di atas, adalah para Imam dua belas yang diklaim sebagai imamnya kaum Syiah. Untuk menguatkan khayalan dan kemustahilan keyakinannya ini, maka kaum Syiah menciptakan hadits palsu, antara lain yang tertera dalam judul bab : Ali Sebagai Pengajar Jibril. Adapun isinya sebagai berikut : Ketika Jibril menghampiri Nabi SAW, tiba-tiba Imam Ali juga menemui beliau SAW. Jibril berdiri untuk memuliakan dan menghormat Ali as. Rasulullah SAW bersabda kepada Jibril, “Apakah engkau berdiri untuk menghormati pemuda ini? Jibril memaparkan, “Ya, karena dia memiliki hak pengajaran kepadaku”. (halaman 35). Menurut keyakinan umat Islam, bahwa tugas malaikat Jibril adalah membawa wahyu dari Allah untuk diajarkan (disampaikan) kepada Nabi Muhammad SAW dan para nabi sebelumnya. Artinya, bahwa malaikat Jibril adalah guru bagi semua para nabi, termasuk gurunya Nabi Muhammad SAW. Sedangkan dalam ajaran Syiah, mereka meyakini bahwa malaikat Jibril adalah murid Sy. Ali bin Abi Thalib. Keyakianan ini memberi pengertian bahwa derajat Sy. Ali ‘sebagai guru’ jauh lebih tinggi tingkatannya dibanding derajat malaikat Jibril yang menjadi muridnya. Apalagi dibanding derajat para nabi, termasuk derajat Nabi Muhammad SAW. Adapau kelanjutan ‘hadits’ bikinan kaum Syiah di atas adalah sebagai berikut : Rasul SAW berkata, “Apakah hak (Ali) itu ? Jibril menjelaskan, “ Ketika Allah menciptakanku, lalu Dia menanyaiku, “Siapakah engkau, siapa namamu, siapa Aku dan siapa nama Aku? Saya merasa kikuk, apa yang harus aku jawab, tiba-tiba seorang pemuda (Ali as), manifestasi dari Alam Nuraniyah berkata, “Katakanlah ! Engkau adalah Tuhan Yang Maha Agung, nama-Mu Indah, dan aku adalah hamba-Mu yang hina dina, namaku Jibril”. Rasul yang mulia SAW berkata, “Berapa umurmu?” (Yakni pada masa tersebut, berapa tahun sudah terlewati). Jibril menjawab, “Saya tidak memiliki perhitungan atas umur. Namun bintang-gemintang di Arsy akan terbit satu kali selama 30.000 tahun dan setelah itu, terbenam lagi. Maka saya sudah sampai 30 ribu kali melihat bintang-bintang tersebut (muncul dan tenggelam)”. (halaman 35). Jika sebelum malaikat Jibril diciptakan oleh Allah, ternyata diyakini bahwa Sy. Ali sudah ada terlebih dahulu, bahkan beliau juga diyakini sebagai pengajar malaikat Jibril seperti dalam aqidah Syiah yang tertera di atas, maka semakin jelaslah pengkultusan kaum Syaih terhadap Sy. Ali bin Abi Thalib. Bahkan mereka yakini jika derajat Sy. Ali ridhiyallahu anhu jauh lebih tinggi dibanding seluruh makhluk Allah, termasuk jauh lebih tinggi dibanding derajat Nabi Muhammad SAW nabinya umat Islam di seluruh dunia. Di sini semakin jelas bagi umat Islam, jika aqidah Syiah itu memang bukan bagian dari ajaran agama Islam. Bersyukurlah umat Islam Indonesia saat mendengarkan pernyataan Menteri Agama Surya Darma Ali (SDA) yang tegas mengatakan Syiah bukan termasuk ajaran Islam, karena memang sesuai faktanya. Mudah-mudahan SDA tetap dapat istiqamah dalam pernyataannya ini, hingga keluar larangan resmi dari p[emerintah terhadap pengembangan Syiah di Indonesia, sekalipun SDA dikecam oleh pihak-pihak yang menjadi pembela aliran sesat Syiah Imamiyah, agama adopsian dari Iran ini. Dalam banyak berita di media massa disebutkan: Sebelumnya Surya Dharma Ali menjelaskan, Kementerian Agama dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) pernah mengeluarkan keputusan terkait keberadaan Syiah. Keputusan tersebut di antaranya : 1. Rakernas MUI pada 7 Maret 1984 di jakarta, merekomendasikan bahwa umat Islam Indonesia perlu waspada terhadap menyusupnya paham syiah perbedaan pokok dengan ajaran Ahli Sunna Waljamaah. 2. PBNU pernah mengeluarkan surat resmi No.724/A.II.03/101997, tanggal 14 Oktober 1997, ditandatangai oleh Rais Am KH.M Ilyas Ruchiyat dan Katib KH.M. Drs. Dawam Anwar, mengingatkan kepada bangsa Indonesia agar tidak terkecoh oleh propaganda syiah dan perlunya umat islam indonesia perbedaan prinsip ajaran syiah dengan Islam. 3. Kementerian Agama RI mengeluarkan surat edaran nomor D/BA.01/4865/1983 tanggal 5 Desember 1983 tentang hal ihwal mengenai golongan syiah, menyatakan bahwa syiah tidak sesuai dan bahkan bertentang dengan ajaran Islam. "Kemarin-kemarin saya membuka dokumen, ternyata MUI dan Kemenag menyatakan syiah bukan Islam. Sejauh ini pemerintah berpegang kepada keputusan lama," kata Suryadharma, Kamis, 26 Januari 2012 di Gedung DPR.

0 komentar: